Minggu, 23 Desember 2012

Belajar ke TPA Piyungan

Minggu, 23 Desember 2012

betapa susahnya bangun pagi dihari  minggu, bayangin aja hari minggu yang ditunggu-tunggu karena bisa tidur sepuasnya harus diganggu dengan tugas kuliah. harus bangun pagi dech. jam 7 teng harus sudah kumpul di kampus, mau g mau ini kewajiban. siap-siap pasang alarm sekenceng mungkin dan sebanyak mungkin, ganggu mimpi-mimpi indahku dihari ini.

TPA Piyungan
seperti kesepakatan bersama, sebelum berangkat semua mahasiswa dari 4 kelas berkumpul di kampus. perjalanan dilakukan mulai dari kampus kemudian ke rumah dosen baru lanjut ke TPA. perjalanannya cukup lancar walaupun sedikit macet, karena melewati beberapa pasar. tau sendiri kan gimana ramainya pasar pagi-pagi. sebelumnya aku g pernah bayangin TPA Piyungan itu seperti apa. dipikiran ku yah tempat yang banyak sampahnya. sesampainya di TPA Piungan, bagi orang yang indra penciumannya normal pasti merasakan bau yang kurang sedap. bahkan bisa dibilang tidak sedap. kalau dipikir-pikir dengan sampah sebanyak itu g mungkin g bau. ditambah banyak kotoran sapi. makin mencerminkan tempat yang tidak layak ditinggalkan. namun, walaupun begitu tidak sedikit orang yang tinggal ditempat itu. entah atas alasan apa. dalam hatiku, bagaimana mereka bisa hidup sehari-hari ditempat seperti itu, bagaimana mereka bisa makan enak denagn aroma yang g berselera, bagaimana mereka bisa tidur dengan nyenyak, dan melepas lelah. dimana-mana banyak lalat dan pastinya juga banyak nyamuk. atau apakah ditempat itu bisa menghasilkan uang yang lebih banyak ? entahlah . . .
sumpah, aku salut sama mereka. mereka pahlawan bagi dirinya sendiri, pahlawan bagi anak-anaknya, pahlawan bagi istrinya, pahlawan bagi suaminya, pahlawan bagi keluarganya. aku sempat mendengar sedikit omongan dari seorang ibu yang lagi duduk, mungkin lagi istirahat "beginilah tempat ini nak, bau". bagiku kata-kata itu mencerminkan ketegaran dan kesyukuran dari hati seseorang. bersyukur dengan apa yang dia punya dan bersyukur dengan apa yang ada.
bagi kita, tempat itu memang kumuh. tidak betah untuk tinggal lama-lama. tapi bagi mereka tidak. bahkan mereka butuh sampah. samapah yang setiap hari kta buang sangat ditunggu-tunggu dan diharapkan oleh mereka. Masyaallah, begitulah hidup. bahkan aku tidak bisa menahan rasa haru dan perasaan salut, bangga atas perjuangan mereka. ketika ada sampah yang datang dibawa dari kota oleh sebuah truk angkut sampah. aku melihat mereka berebutan ketika sampah-sampah itu diturunkan. seperti melihat berlian, atau melihat air digurun pasir begitu berharganya. tidak sadar pipiku basah. aku menangis, bukan aku kasian, tapi aku salut, mereka semua hebat. aku salut kepada ibu, aku salut kepada bapak. jangan nyerah.

tidak apa-apa lah hari ini bangun pagi dengan muka kesel hanya untuk ke TPA. tapi ini perjalanan rohani yang termahal untuk orang-orang yang hatinya tersentuh. ini pengalaman emas menguji kepekaan batin dan rasa kepemilikan segala sesuatu yang menyamankan hidup kita selama ini. selama ini hidup kita berkecukupan dan bahkan lebih. tapi terkadang kita masih saja mengeluh, tidak bersyukur. jadi, perjalanan kita hari ini tidak sia-sia jika ditanggapi dari sisi yang positif. sehingga bisa buat kita berpikir masih ada orang diluar sana yang untuk makan saja masih susah, tidur ditempat enak saja tidak pernah.
semoga hari ini membuka hati kita, menyadari apa yang kita punya dan mensyukuri apa yang ALLAH kasih.

2 komentar:

  1. Iya setuju ma pemaknaanmu Vin, Kadang kita ngerasa gak bersyukur terhadap ap yg kita punya, bhkan malah mengeluh. Semngat untuk TPA :)

    BalasHapus
  2. semangat-semangat . . .
    emang risih disana bagi kita yang biasa hidup di tempat bersih . tapi kita melihatnya dari sisi yang lain. maka ada nilai disana.
    mba,join blog ku dong . hehehe :v

    BalasHapus